laman

Senin, 09 Januari 2012

hasil jepretan q,

wahyu lgi maen neyyy

  


ne rumah bude

batu kecil jadi gede

wahyu lagi maen ma dimas



di kampong



solo dipagi hari @kost






Kamis, 05 Januari 2012

semalam suntuk ngerjaen ne tugas, tidur cuma 2 jam tapi berhasil menyelesaikannya dgn baik :) part 2


Arief fajar, Travelling


Gedung J berlanai 4 warna putih coklat, banyak menyimpan cerita menarik didalamnya. Gedung  yang berada di kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta, pabelan, Surakarta.
Arief Fajar, laki-laki kelahiran Banjarmasin 14 desember 1986 sudah hampir 2 tahun mengajar di Fakultas Komunikasi UMS. Dia mempunyai hobi yang menurut sebagian orang hobinya itu aneh. Bergelisah. Dia sering bergelisah karena sesuatu hal. Menurutnya kegelisahanya ini semisal tidak dalam posisi yang mengenakan katakanlah ada yang melakukan penekanan dan cenderung kearah seperti itu. Contoh kegelisahannya yang membawa angin segar yaitu masalah tentang mata kuliah yang tidak bersangkutan dengan jurusan ilmu komunikasi diganti dengan mata kuliah yang memang basicnya di jurusan ini.  
Sekarang dia juga sedang sibuk menyelesaikan studi Sajarna Strata 2, program Magister of Science prodi komunikasi pembangunan di sekolah Pascasarjana-Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Dari tahun 2009 hingga 2012 ini yang belum selesai dan diwisuda.
Selain mengajar di UMS, dia juga mengajar di Universitas Respati Jogjakarta dan Universitas Kristen Setiawacana Salatiga. Solo-Jogja, “ngamen istilahnya,” tutur mantan sekretaris Ikatan Muhammadiyah Komisariat FISIP Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Ngamen. Bukan halnya nyanyi di bis kota atau di lampu merah, tapi ngamen disini sebagai dosen komunikasi yang mengajar di universitas sebelah Jogjakarta. Dengan hasil mengamennya ini dia bisa membiayai kuliah S2 nya tanpa meminta uang sedikitpun pada orang tua. Hobi travelingnya yang membuatnya betah bolak balik Solo-jogja.
Alumni Universitas Muhammadiyah Malang ini hobi travelingnya jugalah yang  membawanya dirinya dari Banjarmasin ke pulau jawa. Dia juga mengakui sudah mengelilingi hampir seluruh pulau Jawa dan sebagian Sulawesi. Dalam waktu dekat ini juga dia akan berangkat travelling ke Selangor Malaysia, karena papernya lolos di onec Singapore. Travelling atau bagpacker itu kita bisa betemu dengan orang baru dan suasana yang baru. Tanpa bertanya kita akan tersesat di perjalanan. Maka berbuat baik kepada orang lain walau itu hanya senyum.
Pengalamannya dalam hidup adalah “semua pengalaman hidup itu berkesan, bisa mendengar itu sudah berkesan, karena banyak diluar sana banyak yang tidak bisa mendengar, dan selalu mensyukuri yang ada” ungkap dosen yang akrab dipanggil pak arif ini.
Motto hidupnya yang selalu di terapkannya dalam kehidupannya sehari-hari “Musuh dalam diskusi adalah teman dalam berpikir,” ungkap laki-laki asal Kalimantan ini.

semalam suntuk ngerjaen ne tugas, tidur cuma 2 jam tapi berhasil menyelesaikannya dgn baik :)


Billy Susanti, Gagal Lagi Coba Lagi



Solo. Rabu malam 14 desember. Mendung disertai gerimis tidak menyurutkan langkah kuda besi ini menelusuri pematang sawah menuju wisma Gisela, Mendungan, Surakarta. Pukul 18.30, perempuan cantik telah lama menunggu diruang tamu. Billy Susanti namanya, mahasiswa semester 3 jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Ramah, kesan pertama bila bertemu dengan perempuan yang akrab di sapa billy ini. Membaca Novel terjemahan adalah hobinya. Novel yang digemarinya itu  Sir Arthur dan Alfred Hictchock. Ketika ditanya mengapa ia senang dengan novel terjemahan? “Ceritanya lebih menarik dan endingnya yang susah ditebak,” jawabnya dengan santai.
Minatnya pada bahasa asing mendorongnya ingin menjadi diplomat Negara. Sewaktu masih duduk di SMA, ia ingin mengambil jurusan Hubungan Internasional UGM Jogjakarta. Menurut alumni SMAN 3 Cilegon ini “Masalah universal itu lebih menarik dan penuh dengan tantangan,” tutur Billy.
“Bekerja di kedutaan besar di Negara tetangga merupakan hal yang luar biasa. Tidak hanya melayani orang-orang Indonesia di Negara tersebut, namun bisa bertemu dengan orang baru, belajar lebih banyak bahasa asing lainnya dan belajar budaya baru,” tutur perempuan berdarah asli Jawa  Banten.
Lampu 15 watt yang begitu terang diruang tamu menemani obrolan panjang ini. Selama kelas 3 SMA ia rajin mengikuti bimbingan belajar dan kursus bahasa asing. Agar bisa lolos ujian di perguruan tinggi negeri UGM untuk mengejar cita-citanya sebagai diplomat Negara. Namun diakhir semester 2 mendekati ujian nasional takdir berkata lain. Dia harus mengurungkan cita-citanya karena faktor internal keluarga.
Pukul menunjukan 19.30 suasana semakin hening dan hanya suara dari obrolan ini yang berdengung di ruaang tamu. Walaupun gagal dan mengalami kekecewaan, ia harus tetap harus melanjutkan asanya di UMS ini. Menjadi Jurnalis adalah cita-citanya sekarang. “Bukan hanya diplomat Negara yang bisa bekerja diluar negeri, namun jurnalis pun bisa menjelajahi semua benua, asal dia mampu dan yakin bisa,” tuturnya mengakhiri obrolan ini.